Romansa Asmaradana

Noktah romansa meminta ampun kepadaku

ucapnya; bumi disesaki egoisme
modus tantrum dan sewajarnya tidak; namun terjadi; berulang kali

Romantikanya menengadah di hadapanku

kuelus pucuk kepalanya dan kataku; teringat kaset milik ayahku

yang pernah tersimpan di dalam lemari hujatan tetangga juga rekan kerjanya
terdengar menyendu; pilu dan tersedu

geraknya bergemuruh pun bisik bergema di sepanjang arus; kepalaku terantuk sedang kaki terjegal

meringis

namun rimbunku tak pernah mengeluh; ia hanya ribut dan riuh; sesekali mengaduh dan merengkuh.

Posting Komentar

0 Komentar