Kau dan Segenggam Freesia

Baru Saja; Semalam

Pukul sepuluh lewat lima,
Setelahnya,
kudapati wajahmu begitu tenang.
ketika halaman mulai lengang,
langit mulai hitam,
Kulirik terdiam.
segaris mata milikmu tersanggah
Pipi putih bulat ranum pucat dan senyum lebar terangkat.

"Bawakan aku segenggam freesia" —pinta kau setelah pukul sebelas malam.

"Untuk apa?" —jawabku dengan segala rasa takut yang bercokol di kepala.

"Agar tidurku makin wangi" —jawabmu sembari terisak yang mendesak di dada.

Satu dua detak tiga berlalu,
Terus bergeliat pada jam dinding kelabu;
Memaksa mata bekerja lebih keras,
menyampaikan kecemasan;
Yang disuarakan berulang kali,
Lewat ulir hujan yang bermuara di pipi,
Sementara doa-doa,
mengering berbaur dengan udara.


Malam itu; setelah pukul setengah satu
aku terpaku pada derap kakimu.
yang menggemakan ujung gang buntu; terpenjara pada kepergian kau,
kehilangan yang diiringi ayat-ayat para kyai di dadaku.
Malam itu; segera di hadapan kita,
Tinggallah kepulan debu
Dari langkah yang terburu.

Setetes air jatuh tepat di atas kepalaku.
Tersebab, tak ada yang setabah langit mengulang kehilangan,
maka malam ini biarkan hujan turun tanpa melewati mendung.
Bukankah airmata boleh saja jatuh,
Asal tak terlalu lama menggayuti dagu?

Detik ini kutahu; betapa surga sesungguhnya berasal dari kepergian,
Maka sebaiknya kusudahi dongeng kali ini.
Kuseka basah dari kepala pusara kau
kukecup tepat di pucuk.
Telah kusiapkan beberapa pelukanmu di ingatan.
sebab kutahu hari-hari mendatang,
Akan hujan
dan kau?
Tinggal kenangan.

Posting Komentar

0 Komentar