Kisah Jenaka





Akhirnya kau memutuskan pergi
membiarkan selembar malam
menggulung diriku dalam dekapannya.
Gugusan bintang dan rembulan
menggantung—menertawakanku;
seolah aku adalah lelucon jenaka
pelipur lara yang membuat mereka terpingkal-pingkal.

Sekarang aku mengerti bagaimana trotoar itu mencumbu kesendirian;
letih dan tak bergairah,
seperti hari ini adalah hari terakhir mereka untuk hidup.

Akhirnya kau memutuskan pergi;
dan aku seperti Van Gogh yang tersungkur dalam sketsa lukisannya seorang diri.

Mungkin,
suatu hari nanti kau akan bersua denganku
namun,
aku sudah menjelma menjadi cat warna lukisan yang telah pudar.

Akhirnya kau memutuskan pergi—
membiarkanku diremuk oleh hiruk pikuk kota; yang tertinggal
hanyalah bongkahan masa lampau—
ia bersarang abadi dalam rongga ingatan.

—AksaraRai. 

Posting Komentar

0 Komentar