Gemuruh Riuh Amerta




di sudut ibukota yang begini-begini saja
aku berkumpul dengan kata

    pada persimpangan jalan tadi
    frasa jelmaan asa hinggap di dahan
    lambainya mengeja lirih abadi
    takkan kau temu pada bingar metropolitan

    ada juga teriakan bahana
    tergandeng deru bayu
    lejarnya takkan sampai ke telinga
    atau ke meja hijau yang seteru

    ha-ha-ha, anak-anak menertawakan badut di
    taman
    ha-ha-ha, deham tikus berdasi pada angan rakyat

belum saja sampai di pojok ibukota
napasku engah, padahal sedikit egah
sebab apa jadi begitu?
oh, sebab dada terimpit jumputan suara bongkah

    Sudirman tak lantas padam juang
    atau ongkang-ongkang dengan tuberkulosis
    namun kita kawula pembangkang
    larat oleh kepala kritis-demokratis

    Habibie dengan pesawatnya saja tak pernah sok
    menjumantara
    atau Aan Mansyur yang tak pernah gerah
    dengan cintanya yang marah
    lalu datanglah kita yang pongah
    anggap lengkara padahal nir-usaha

    "kalau harus gila, gila sajalah,"
    seru Jokpin dengan celana dan ibunya
    bukannya gila amanah
    kita malah merubung nasi basi bersama lalatnya

"ah, kopiku habis!" seru lelaki tua di ujung kedai
berkemeja longgar dengan janggut memutih
di sampingnya, tertawalah lelaki berpeci putih

"mengapa bisa bahagia sekali?"
saat sedang sejantung dengan puisi, aku bertanya demikian
namun keduanya bungkam

kalau kau belum paham, begini,

lewat puisi, mulutku teriak
dengan ramainya sunyi yang paling
sebab advis jadi abid, kata-kata amerta
dan moral duduk bersila

Posting Komentar

0 Komentar