Tuan, murkamu dan maafku sama agam,
terus saja mereka mengulang dirinya
terlepas perang yang berderang.
Ah, terlalu getir matamu di malam kubuka mulutku
tentang dua lengan nona candala;
suaka jejak derita; cagar durjana.
Terlalu panas keningmu,
minum obatmu,
tidurlah, Tuan.
hidupku hanya tragedi
yang ruahnya cukup semalam.
Aku munafik dan maluku sarat.
apa yang bisa kuperbuat?
aku peta seribu galat,
luput nan sengkarut—
ia menjelma jagat.

0 Komentar