Aku akan pergi, rimbunku.
ada hal yang mesti kuselesaikan
pada waktu, tempat, dan hidup yang berbeda.
jangan bersedih dulu,
sebab dalam nawala patraku
tersimpan berlaksa afeksi dan harkat untukmu.
dengarkanlah wahai rimbunku.
aku telah menunggu begitu lama
dalam kesunyian dan ratapan.
sudah sirna cahaya di ujung lorong untukku, maka tak usahlah sedu sedan itu
kau tunjukkan ketika kita berjumpa untuk terakhir kalinya.
sudah sewindu kautuntun aku
melewati bayang kelam
yang menggonggong di sepanjang dinding lorong.
jenakamu secerah pelita;
memberiku sepasang sayap.
senyummu sehangat pelukan—
yang mampu kurasakan.
kerlingmu serupa lembutnya matras
yang menenangkanku.
aku akan pergi sedetik lagi, rimbunku.
pintaku hanya satu;
selesaikanlah apa yang tak mampu kupungkasi.
jangan menangis dulu,
aku pergi untuk menyiapkan tempat
untuk kita berdua.
hapus air mata itu,
mair hanyalah serangkaian pintu
di mana satu pintu menutup,
yang lain akan terbuka
dan aku akan menunggumu
di baliknya, selalu.
0 Komentar