[Duka Cita, Nawacita]



Di persimpangan jalan,
sepasang kaki milikmu
memutuskan untuk melangkah pergi—meninggalkan sepasang kaki lain;
 milikku berdiri sendirian.

Di persimpangan jalan,
kita menjelma sepasang sepi
dan kini memilih jalannya
sendiri-sendiri,
tak lagi saling mengisi,
melainkan saling menyakiti.


-------------
Tunggu,
kali ini bukan di persimpangan jalan lagi,
ini di lorong waktu.
ada banyak pintu,
pintu pertama; menuju kenangan
tentang kita yang selalu terulang.
Pintu kedua; tentang aku
wanita yang kau tinggalkan sendirian.

Lorong waktu memiliki banyak pintu,
duka suka bercampur satu.

Tapi, kali ini aku tak mau
mengucap rindu untukmu,
atau untuk kita
yang terasa begitu indah di masa lalu.

Kali ini, aku ingin mengucapkan
beberapa kalimat : Aku merelakan kau, merelakan kita yang tak bisa seperti dahulu, 
aku mulai paham,
seharusnya yang aku jaga
bukanlah perihal rasa cinta kepadamu, melainkan rasa cinta terhadap diriku sendiri.
aku bahagia sebelum kehadiranmu,
dan akan sama saat kamu pergi tanpa pesan dan menghilang.

Posting Komentar

0 Komentar