Ah—



[Ah, aku ingin jadi batu lagi—]

          Di dalam gelap kamar aku tak bisa
melihat jam dinding menunjuk pukul berapa,
yang kutangkap hanya bunyi tik-toknya
tidak memberi kepastian berapa lama akan pagi.

Aku menanti bersama sekumpul buku di rak kesukaanku dan baju telah usang
yang bergantung di lemari.

      Suara deru hujan yang menimpa genteng rumah mengisi kekosongan
dan menjadi sangat berarti. Penantian mendambakan
kejadian dan nyawa berteriak: “Terjadilah sesuatu!”
memberi kebahagiaan
yang sejuk tak menentu.

       Menanti adalah tugas mulia
dilakukan kalijaga di tepi sungai
sampai urat akar membelit
jasadnya.

Kenikmatan terdapat dalam hilangnya kenangan
sejarah dan harapan hari nanti.
keabadian mengental
pada detik ini,
tidak mungkin dipegang
kecuali kalau penantian berhenti.

       Makhluk yang dikasihi Tuhan adalah batu.
ia tak pernah merasa resah,
karena membiarkan peristiwa berlalu.
baginya tidak ada penantian.

      Awal dan akhir
zaman dialami dengan sikap tak peduli.
begitu juga tak ada benci atau cinta
yang menggoda ketenangan diri.

Mereka diam dalam sakit waktu bumi hancur sampai sekecil atomnya.

       Ah, ada yang ingin jadi batu
kalau kehidupan dimulai
lagi.

Posting Komentar

0 Komentar