Sonnet 5




Cuplikan Semasa Meredam


Bagian Satu: Lambat dan Mencekik

i.                     Ini bukan rehat yang direncanakan:

Satu hari aku bangun dari tidur dan berpikir, “Oh, ya, aku kehabisan inspirasi. Mari rehat sejenak sebelum muncul hal baru untuk ditulis.”

Dan keesokan harinya, juga minggu-minggu setelahnya, “Oh, ya, belum ada inspirasi juga. Mari rehat lebih lama agar muncul hal baru untuk ditulis.”

Dan setahun setelahnya, atau agaknya, lebih. Hingga waktu-waktu selanjutnya.


ii.                   Benakku lupa cara membaca dan menikmatinya:

Aku mencoba membaca buku Pram dan meletakkannya, membiarkannya dihinggapi debu dan menyaru dengan gelap di pojok kamar sampai berbulan-bulan. Hal yang sama terjadi pada Dee, lalu Jokpin, lalu Sapardi, lalu Eka Kurniawan. Bahkan karangan Aan Mansyur yang kubaca puluhan kali pun kini membuatku jenuh. Membuka halaman pertama yang kucoreti numeric romawi di wajahnya pun aku muak.


iii.                 Ia juga lupa caranya menulis dan menyusun diksi agar memanjakan mata (dan kamu sudah tahu sejak membaca ini kali pertama).


iv.                 Rasanya aku sedang berada dalam Kereta sunyi dan terjebak selamanya di ruang kedap suara:

Selama aku hidup, aku terbiasa dengan resah yang tak berkesudahan. Gundah di atas kendaraan yang mengocok jiwa dan gemetar kaki yang tak mau berhenti; gemeletuk gigi dan tangan yang menggigil; napas berat dan kulit berkarat. Selalu ada kejutan di tengah jalan, gelap yang melahap saat sedang menyusuri taman kota dengan langkah ringan.

Kini aku terjebak dengan linear bergradien minus yang berangsur meluncur turun dari waktu ke waktu. Tak pernah ada kejutan, hanya gelap yang konstan.


v.                   Seseorang pergi dan tak mungkin kembali:
Ini bukan kalimat hiperbola. Tiada sama maknanya dengan frasa putus cinta. Aku berpapasan dengan kotak kejutan yang kukira tak akan singgah.


Dalam dekap malam, aku berandai-andai akankah ia menjemputku. Aku tak sempat mengantarnya pergi bulan-bulan lalu.


vi.                 Aku harap ia datang lekas. Jalanku kian menggelap. Tulisanku mengapung seperti rongsokan di atas sungai. Sampah-sampah dengan tinta benakku menumpuk, tapi banjir tak pernah datang. Ia juga tak akan datang.


(Semoga kereta sunyi ini cepat bergerak.)

Posting Komentar

0 Komentar