Cuplikan Semasa Meredam #2
✴bagian 2: Semalam Bulan Menghilang
Coba kau lihat jalan dan dedaunan yang basah,
atau embun rintik di kaca jendela,
ada rindu yang awan sampaikan lewat sisa-sisa rintiknya.
Semalam bulan menghilang,
entah sedang berkelana ke mana ia. Setelah pencarianku menyusuri jalanan sembari menatap langit-langit, dari barat hingga timur ibu kota,
Ia tak tampak dimana-mana.
Tapi bulan masih dan memang baik—ia datang ke pekarangan rumahku setelah aku selesai berkelana, meskipun hanya beberapa detik, mungkin semalam ia tahu bahwa ada yang ingin kubicarakan, “Bulan, nampaklah. Banyak manusia yang menunggu purnamamu bersinar dengan indahnya”, setelah aku mengucapkannya, ia menghilang kembali.
Pagi ini aku tahu, semalam bulan bukan menghilang, melainkan bersembunyi di balik awan, lalu melakukan perundingan. Mungkin begini diskusinya: “Awan, tolong titipkan salamku kepada seisi bumi, melalui rintikmu yang magis. Aku sedang bersembunyi, dan menenangkan samudra yang sedang bergejolak”.
Kira-kira, sampai kapan bulan akan bersembunyi di balik awan? Apakah nanti malam ia akan datang? Atau bulan akan lebih sering meminta awan menurunkan hujan?

0 Komentar