Catatan Hati yang Rapuh


Tentangnya; yang tertiup angin.

Aku kembali,
hanya untuk menuliskanmu lagi
—untuk yang terakhir kali?
atau kelak masih tetap? mungkin sesekali.

Pernah kukatakan, bahwa jalan pikiranmu layaknya teka-teki? Sulit terpecahkan. Bahkan sampai saat ini kamu masih sulit dipahami. Aku masih menerka-nerka; Di mana kesalahanku? Mengapa kamu sampai sejauh ini? Mengapa kamu repot-repot melakukan ini?

Kamu menjauh, semakin sulit terengkuh. Kamu membuat kita semakin berjarak, padahal dulu kita amat dekat. Sampai-sampai, kini bahkan kita tak bisa bertemu lagi dalam satu lingkaran.

Terkadang, aku masih menerawang, malam-malam panjang yang pernah kita lewatkan. Apa bagimu itu mudah dilupakan? Apa selama ini ucapanmu hanya omongkosong dan bualan?

Di malam itu, padahal kita masih baik-baik saja. Kamu masih menenangkanku. Kamu bilang, jika kamu memilih A maka kamu akan tetap pada pilihanmu, tidak goyah pada pilihan lain. Dan jika kamu sudah terlanjur nyaman pada seseorang, maka tak peduli seberapa menariknya orang lain, pilihanmu tak akan mudah teralihkan. Itu prinsip; katamu.

Tapi nyatanya?
Kamu dengan tega meninggalkanku tanpa sebaris penjelasan.

Apa aku cukup mengganggu?
Apa ini caramu melarikan diri?
Agar kita tak semakin dalam saling menyakiti?
Agar dengan sendirinya, perasaan lekas mati?

Sedari awal kita memang tahu, kita tak sanggup menyamakan jalan. Aku yang terlalu kecil bagimu; kau bintang di langit dan aku hanyalah sebatas debu di Bumi. Aku tak sanggup menyeimbangimu.

Tapi, tak bisakah kamu memilih jalan yang lebih baik? Menyakitkan, melihat tak ada lagi kolom untuk membalas pesanmu di ruang obrolan. Hanya menyisakan aku seorang. Meratapi pesan-pesan penuh kekecewaan.

Tapi percuma saja meratapi seseorang yang memang senang berlari. Katamu, jangan pernah bodoh hanya karena seorang pria. Katamu, jangan pernah mau menunggu untuk seseorang yang sudah pasti tak akan datang. Kamu tidak suka dengan wanita yang demikian.

Tenang saja,
aku tidak mau repot-repot menjadi seperti itu.
Banyak sekali hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Akan lebih baik juga, jika aku segera membunuh perasaan, sebelum mereka semakin menjalar semena-mena.

Aku tahu betul,
bahkan kamu dengan mudah melepas sesuatu yang kamu bangun dan perjuangkan sedari nol.
Apalagi hanya melepasku, yang bahkan belum sempat tergenggam. Mudah sekali bagimu.

Tapi, terimakasih pernah ada, membawa banyak pelajaran. Pernah datang layaknya segelas milo dingin di kala dahaga. Pernah begitu lucu dan menyenangkan, membuatku tersenyum bahkan tertawa geli sendirian.

Kita perlu melanjutkan hidup, bukan?
Aku sengaja menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan,
agar bayanganmu tak melulu melekat di ingatan.

Meski di sela-sela waktu luang,
maafkan aku, kata-katamu masih tetap terngiang.

Di manapun kamu berada, apapun yang kamu lakukan,
kumohon, jaga kesehatanmu. Makanlah dengan baik. Kamu terlalu sering tidur larut malam, berpikir terlalu keras, menanggung beban sendirian.

Kamu lupa,
banyak sekali yang menunggumu pulang,
menyayangimu dengan penuh kehangatan.

Jika suatu saat,
keadaan terasa semakin buruk dan begitu berat,
berbaringlah di antara rerumputan,
menyatulah dengan dedaunan yang berjatuhan,
rasakan embusan angin yang datang mendamaikan,
kuharap itu cukup menenangkan.

Kamu pergi bukan untuk dicari,
melainkan butuh menenangkan diri,
pun perlu membenahi hati.
Dan aku, cukup tahu diri.

Pilihan terbaik satu-satunya adalah,
melepasmu pergi.


tertanda,
—Difraksi Kapsaisin
pemilik akun yang masuk daftar blokiranmu.

Posting Komentar

0 Komentar