Tentang, aku kau kopi dan sepi yang selalu mencoba bertamu
Kau tahu, bagaimana sepi melulu mencoba bertamu.
ketika sampai di pintu, ia malu-malu menampakkan diri
barangkali ia enggan.
Melihat wajahmu pun daun-daun di pohon
bahkan lupa cara menjadi tempat bernaung,
keteduhan gagal melekat di sulur-sulurnya
Sementara di sini, di meja yang penuh kisah
nasi usus dan ikan sarden
berlomba menceritakan petualangan
menuju lambungmu
Masuk ke tubuhmu, kata mereka,
ialah dengus napas,
decak gembira, sesekali sendawa
Jarak ke hatimu
tinggal sejengkal sampai
tapi detak jantung lirih
memantul-mantul pada dada.
Beberapa nama digumamkan,
banyak dari masa lalu, satu dua masih menyangkut di masa kini.
Daftar nama itu
dimuntahkan oleh lidahmu pula sesekali
“Apa peduliku?”
segelas air hangat
segera menenggelamkan rasa pahit
yang bukan dari kopi
Ini buku lama tentang musik yang baru kubeli di toko buku seberang gang rumahmu,
bacalah bersama dengarkan sepotong lirik lagu satir yang baru ku buat
di pagi buta dini hari tadi; ujarmu.
di pagi buta dini hari tadi; ujarmu.
langsung saja kubaca pelan dari halaman pertama
demi debar petualangan sejak awal,
akan kuselesaikan sampai akhir
Kau tahu, lagi-lagi sepi melulu bertamu
Tapi ia hanya berdiri di pintu
melihat rumah hatiku yang penuh akan mimpiku bersatu denganmu.
Ia tak sanggup masuk,
kerap pergi dengan kekalahan
sedang kita, cukuplah berbagi
masa, saling menyesap manis-pahit rindu
dari cangkir espresso itu berdua
Berdua.
—Difraksi Kapsaisin
sedang merindu senja
(senang dimanja olehmu)
18/03/19
#Sastra
#Celoteh
#Sajak
#Rindu

0 Komentar