Di balkon rumah tadi malam,
suara itu terdengar sayup. Aku sendu. Jika sendiri ini membunuhku, aku akan tetap begini, seakan mencari padahal berlari.
Kamu, seperti halnya angan. Hanya tampak nyata dalam impian. Kadang berirama dalam sumbangnya nada. Kadang menjelma dalam kilas fatamorgana.
Tadi malam, sinar itu terlihat remang. Dalam gelap tanpa tepi, ruang ini bak labirin tak berliku. Mengaburkan pandang dalam jarak. Menggugurkan harap dalam ketidakpastian.
Kamu, seperti halnya tuju. Membawa langkahku pada tumpuan tanpa rambu. Kadang ku ragu meski ku tetap menunggu dalam ruang yang abu.
Sesederhana sajak naif, mampu menelanjangi rasa melalui kata.
Sesederhana detik terus berdetak, menghitung mundur batas waktu “kata” menjadi “kita”.
.
—Difraksi Kapsaisin.
bolehkah aku tetap mencinta
walau hanya sebelah raga?
#Celoteh
#Diksi
#Aku

0 Komentar