[Jika—Kelak]
Jika kelak, tidak kamu temukan aku di layar ponselmu lagi dan membuatmu berpikir aku sudah tidak peduli, ketahuilah bahwa kemarin ada aku yang sering tersenyum tatkala mengetik dan membalas pesanmu meski pesanmu hanya satu buble chat saja.
Jika kelak, tidak kamu temukan aku dalam pencarianmu dan membuatmu merasa resah, ketahuilah kemarin ada aku yang sering bertanya keadaanmu karena begitu khawatir di mana pun kamu berada.
Jika kelak, tidak kamu temukan aku bercerita di setiap malammu, ingatlah kemarin aku begitu antusias merangkai kata untuk bisa aku ceritakan padamu meski responmu tidak bersemangat untuk membacanya.
Jika kelak, kamu temukan aku menunjukkan sikap abai terhadapmu dan membuatmu kesal, ketahuilah kemarin ada aku yang tiap saat selalu menanti kabarmu meski kamu perlu ditanya lebih dulu.
Jika kelak, tidak kamu temukan aku mengatakan “aku rindu” lagi, ingatlah, betapa kemarin aku sangat berharap kamu bisa meluangkan waktu untuk sekadar meneleponku, meski aku tahu sebuah temu masih begitu mahal untukku.
Jika kelak, aku benar-benar menghilang dari hidupmu dan itu membuatmu marah, ingatlah kemarin aku begitu siap selalu ada di sampingmu.
Jika kelak, semua itu terjadi, percayalah aku merasa bersyukur karena telah dipertemukan denganmu dan menjadi persinggahanmu, meski di akhir cerita aku pun yang harus pergi.
Terimakasih, pernah begitu bahagia singgah denganku meski dia pada akhirnya menjadi pilihan paling pantas untuk menjadi pendampingmu.
—Difraksi Kapsaisin.
Salam, semoga kau bahagia
dengan kekasih lamamu itu.
06/04/19
#Sastra
#Sajak
#celoteh
#hati

0 Komentar