Hai apa kabar?
Kini dia telah berubah, tahun ini usianya hampir dua puluh satu dan jauh berbeda ketika saat bersamamu diusia belasan pada waktu itu, kini ia tidak terlalu mementingkan perasaannya lagi seperti waktu itu. Saat ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara ia dapat bersinar seperti bintang bintang dilangit, walaupun tak menjadi bintang dilangitmu.
Sudah banyak model jilbab dari modis hingga syar'i yang ia coba tanpa mengharap orang lain memujinya cantik, meski tak banyak tapi ia terkadang membaca buku walau tanpa ada seseorang yang ia ajak berdiskusi setelah membacanya.
Gadismu ini sangat dingin, jadi pahamilah jika sewaktu kau kembali mengabarinya namun sikapnya seperti ingin membuangmu ke ujung dunia, hatinya tetap hangat tanpa kau ketahui ia juga kadang merindukanmu.
Orang lain menyebutnya pendiam dan pemilih padahal ia sangat cerewet jika bersama orang yang ia suka, ia tak pemilih bahkan selalu ingin berteman dengan temanmu, karena dengan begitu ia akan mendengar cerita konyol tentangmu dari sahabat yang kau kenal sejak kecil.
Gadismu ini telah banyak berubah setelah perpisahan denganmu, walau kau tak ingin tahu perubahan apa saja pada dirinya. Gadismu ini selalu mengamatimu saat pesan terakhir yang kau kirim ketika perpisahan, memikirkan siapa wanita lain yang mampu melembutkan hatimu yang kaku, apakah kau bahagia atau bersedih saat kata kata terakhir perpisahan, apa yang kau makan? Musik apa yang kau dengar setelah itu? Entahlah.
Beberapa tahun setelah itu dan kini gadismu mulai perlahan berjalan kembali berusaha menjadi salah satu bintang yang bersinar di langit, meski kau tak tahu bahwa bintang itu akan selalu menyinarimu dari kejauhan dan gadis itu menamai bintang dirinya sebagai namamu.
—Dari gadismu,
Depok, 07 Mei 2019.
#Celoteh
#Gadis
#Bintangmu
#Sajak
#Sastra

0 Komentar