Menuliskanmu
Pada waktu yang kamu habiskan untuk mengingat-ingat mimpi semalam, ada aku yang berusaha menyatukan mimpiku denganmu pada ujung malam.
Pada waktu yang kamu luangkan untuk menyelesaikan sebuah buku bacaan di akhir pekan, ada aku yang berusaha mengimbangi buku kesukaanmu hanya untuk kujadikan bahan percakapan denganmu suatu saat nanti.
Pada waktu yang kamu sisakan untuk beranjak pergi, selalu ada aku yang memastikanmu pulang dalam keadaan yang baik-baik saja. Baru setelahnya aku kembali pada kertas-kertasku untuk menuliskan tentangmu.
Aku bisa mengingat kapan pastinya, ketika namamu terbesit begitu saja dalam lamunku, yang membuatku begitu gembira. Dari tetesan air yang jatuh dari pohon, hingga daun yang terayun dengan malas.
Sebab pada kesempatan-kesempatan semacam itulah ideku mengalir paling baik dan berlimpah. Sayangnya, bila dan bagaimana mereka datang tidaklah kuketahui, dan tidak pula aku bisa memaksanya.
Kata-kata itu hanya melayang-layang di udara yang pekat, berbaur dengan denting gelas, kekeh tawa dari tiap meja makan hingga akhirnya menetap dalam pikiranku seperti tamu yang dirindukan.
Akhirnya, aku terjatuh pada kenyataan yang tak pernah sanggup untuk aku terima. Bahwa aku tidak akan pernah punya waktu yang cukup untuk menuliskanmu. Kata-katamu selalu bagai rindu dan aku selalu ingin membungkusnya. Hingga bisa kubuka kembali lain waktu dan mendengarnya lebih lama.
Seperti membaca buku, aku senang membacamu berlama-lama. Siapa tahu aku menemukan celah untuk bisa bersamamu kelak. Aku selalu menulis tentangmu dan aku bahagia membacanya berulang kali. Tak bisa kubayangkan entah bagaimana rasanya jika kelak Tuhan mengizinkanku untuk menjagamu seutuhnya. Sedang hanya sekadar menulis tentangmu saja aku bagai duduk di atas kelopak raksasa yang menjulang ke atas awan-awan.
Sebab aku yang tidak pernah selesai menulis tentangmu, maka izinkan aku untuk mendampingimu agar aku bisa selamanya menuliskanmu. Dari hal-hal kecil, hingga nanti di ujung senja sisa-sisa hidup kita untuk perlahan menua bersama.
—Difraksi Kapsaisin
maaf, aku menulis tentangmu lagi💦
Depok, 29 Mei 2019.


0 Komentar