[SORAK SORAI PAGI]
Mentari bersorak sorai
muram menyambut,
seperti tahu aku ini getir lilin
disamping ranjang menjaga
apinya enggan redup
Hey, mengapa kau tak habis?
pun detik jam sayup-sayup bagai bisik.
si dia tak akan lagi hadir semenjak hari ini;
tak mungkin membawakan
sepotong senyum lagi untuk kita
dia menyerah karena ranjang ini
katanya penuh kerisauan
juga selimut mengalirkan hawa kecurigaan
muram menyambut,
seperti tahu aku ini getir lilin
disamping ranjang menjaga
apinya enggan redup
Hey, mengapa kau tak habis?
pun detik jam sayup-sayup bagai bisik.
si dia tak akan lagi hadir semenjak hari ini;
tak mungkin membawakan
sepotong senyum lagi untuk kita
dia menyerah karena ranjang ini
katanya penuh kerisauan
juga selimut mengalirkan hawa kecurigaan
ia sepengecut bapaknya
melarikan kebahagiaan
yang ia nikmati sendiri
darahku mengalir
mewarnai lantai aroma amis
menuai kekacauan
darah ini aku cintai,
sebelum kau lebih merusakkannya
pada khianat yang segar dan suci
kini sendu dan menjijikkan kita
bagai pemangsa habis akal
luput menemukan kembali
bersama nasib buruk ini
aku tak lagi mencari
kau tak menemukan henti—
—Difraksi Kapsaisin.
Depok, 26 Oct 19th


0 Komentar